Warta Pergerakan - PC PMII Pekalongan

Warta Pergerakan

Kabar terkini dan opini kader PMII Pekalongan

Refleksi Pendidikan Bangsa di Hari Kebangkitan Nasional
Opini
Refleksi Pendidikan Bangsa di Hari Kebangkitan Nasional
Hari ini, kita hidup di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kesadaran. Media sosial ramai oleh opini, tetapi ruang refleksi semakin sepi. Banyak orang sibuk terlihat kritis, tetapi jarang benar-benar mau memahami realitas sosial secara mendalam. Ironisnya, di tengah akses pendidikan yang semakin luas, generasi hari ini justru perlahan kehilangan budaya membaca, berdiskusi, dan berpikir jernih. Akibatnya, kampus sering hanya menjadi ruang mengejar gelar, bukan ruang membangun kesadaran dan keberpihakan terhadap persoalan bangsa.Hari Kebangkitan Nasional bukanlah sebatas seremonial. Namun ia adalah simbol yang hidup untuk kita maknai sampai hari ini. Bahwa kebangkitan yang sesungguhnya bukan hanya tentang kemajuan teknologi dan pembangunan fisik, tetapi tentang keberanian menjaga akal sehat di tengah zaman yang semakin bising. Bangsa ini mungkin berkembang secara digital, tetapi belum tentu tumbuh secara intelektual dan moral. Ketika generasi muda lebih mudah mengikuti tren daripada membangun pemikiran, ketika pendidikan kehilangan daya kritisnya, dan ketika kepedulian sosial kalah oleh budaya individualisme, maka yang melemah sebenarnya bukan hanya bangsa ini, tetapi juga arah generasinya.Dalam kacamata Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, mahasiswa tidak hanya memiliki tanggung jawab akademik, tetapi juga tanggung jawab sosial dan intelektual terhadap masyarakat. Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk membangunkan kembali keberanian berpikir, keberanian peduli, dan keberanian menjaga nilai di tengah zaman yang semakin kehilangan arah. Sebab bangsa yang benar-benar bangkit bukan hanya bangsa yang maju ekonominya, tetapi bangsa yang generasinya masih memiliki kesadaran untuk berpikir, bergerak, dan berpihak pada kemanusiaan.Jika saja penjagaan intelektual dan moral oleh warga pergerakan sudah tak lagi diperbincangkan. Bisa jadi bangsa kita mengalami kemunduran peradaban. Jika saja nalar berpikir tak lagi digunakan untuk perjuangan sosial, bisa jadi kita tak lebih dari "monyet" yang sekadar hidup, makan, dan kawin. Maka, sahabat-sahabat mari organisir diri sendiri bahwa hari ini kolonialisme datang dengan bentuk modern. Bahwa hari ini penjajahan bukan lagi dengan senapan dan tank. Namun, pengkerdilan pikiran serta cara pandang yang kian terdistorsi perlu kita lawan 
20 May 2026 12
Reformasi yang Belum Usai: Ketika Birokrasi dan Hukum Masih Dikuasai Elite
Opini
Reformasi yang Belum Usai: Ketika Birokrasi dan Hukum Masih Dikuasai Elite
Kasus hukum yang menyeret Nadiem Makarim hari ini menjadi tanda bahwa Reformasi 1998 belum benar-benar selesai. Dahulu, rakyat dan mahasiswa turun ke jalan untuk menjatuhkan rezim yang korup, otoriter, dan penuh penyalahgunaan kekuasaan. Namun, setelah lebih dari dua dekade reformasi berjalan, yang berubah sering kali hanya wajah kekuasaan, bukan wataknya. Demokrasi memang hadir dan pemilu terus dilaksanakan, tetapi birokrasi serta penegakan hukum masih kerap bergerak mengikuti kepentingan elite, bukan kepentingan rakyat.Birokrasi Indonesia hingga hari ini masih terjebak dalam budaya lama: lamban, feodal, dan sarat kepentingan politik. Jabatan sering dipandang sebagai alat kekuasaan, bukan amanah pelayanan. Akibatnya, rakyat dipaksa menghadapi sistem yang rumit, sementara mereka yang memiliki kuasa justru memperoleh jalan yang lebih mudah. Reformasi yang seharusnya melahirkan pemerintahan yang bersih, dalam banyak kasus, justru berubah menjadi arena pembagian pengaruh dan kepentingan antarelite.Hal serupa juga terlihat dalam penegakan hukum. Hukum di Indonesia masih terasa tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Banyak kasus besar berjalan lambat, penuh drama, bahkan terkadang menghilang tanpa kejelasan. Kondisi ini membuat publik melihat bahwa hukum belum sepenuhnya berdiri di atas prinsip keadilan, melainkan masih mudah dipengaruhi kekuasaan dan uang. Inilah ironi terbesar reformasi: kebebasan berbicara semakin terbuka, tetapi keadilan belum dirasakan secara merata.Reformasi 1998 seharusnya tidak hanya dikenang sebagai keberhasilan menjatuhkan rezim Orde Baru. Reformasi harus tetap hidup sebagai keberanian untuk terus mengkritik kekuasaan yang menyimpang. Sebab, ketika birokrasi kehilangan moral dan hukum kehilangan keberpihakan kepada rakyat, reformasi hanya akan menjadi slogan tanpa perubahan nyata bagi bangsa Indonesia.
15 May 2026 18
Pelantikan PC PMII Pekalongan Jadi Titik Awal Gerakan Berkelanjutan
Berita
Pelantikan PC PMII Pekalongan Jadi Titik Awal Gerakan Berkelanjutan
Pekalongan — Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pekalongan masa khidmat 2026–2027 resmi dilantik pada Sabtu, 30 Mei 2026, di Aula Setda Kabupaten Pekalongan. Pelantikan ini mengusung tema “Reorientasi Gerakan Menuju Organisasi Digdaya Berkelanjutan.”Dalam sambutannya, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, H. Sukirman, S.S., M.S, berharap kepengurusan baru PMII mampu bergerak cepat dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan program serta kontribusi pemikiran dari kalangan mahasiswa.“Saya berharap PMII di bawah kepengurusan yang baru bisa berakselerasi, melakukan percepatan-percepatan, serta menjaga keberlangsungan program agar tidak terputus dan tetap memberi manfaat secara berkesinambungan, adaptif dengan perkembangan zaman,” ujarnya.Menurutnya, pemerintah daerah sangat membutuhkan gagasan-gagasan segar dari kader PMII yang dinilai masih memiliki idealisme tinggi serta nilai perjuangan yang kuat. Ia juga menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan PMII.“Selama ini PMII mampu memberikan sinergi dan sumbangsih pemikiran yang baik. Saya berkomitmen akan terus bersinergi. Tidak mungkin saya meninggalkan PMII apalagi mengabaikannya,” tegasnya.Sementara itu, Ketua Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PMII Pekalongan, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag, menekankan bahwa jabatan dalam organisasi merupakan amanah untuk berkhidmat, bukan untuk berkuasa.“Jabatan itu bukan siapa yang paling berkuasa, tapi siapa yang paling bisa berkhidmat untuk organisasi,” ungkapnya.Ia juga mengingatkan pentingnya pembenahan organisasi di tingkat cabang, penguatan nilai dasar ideologi PMII, serta menjaga integritas dan akhlak dalam menjalankan peran organisasi. Selain itu, ia mendorong agar PMII terus membangun sinergi dengan pemerintah daerah.Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PMII, M. Sofiyullah Cokro, dalam arahannya menyebut pelantikan ini sebagai momentum strategis bagi pengurus baru untuk menjalankan peran organisasi secara maksimal. Ia menegaskan bahwa kader PMII harus berani bersikap, baik sebagai mitra strategis maupun mitra kritis pemerintah.“Jangan takut untuk melakukan apa pun. Saya titipkan kepada para ketua cabang bahwa peran seluruh pengurus di PC PMII Pekalongan ada di tangan Anda. Cita-cita sahabat-sahabat juga ada pada Anda. Kita tidak boleh kalah dalam bercita-cita, terutama dalam konteks gerakan produktif sebagai pengurus cabang, bukan cita-cita pribadi. Untuk satu periode ke depan, kesampingkan dulu kepentingan pribadi. Fokuskan cita-cita pada tujuan organisasi PC PMII Pekalongan, yakni mewujudkan transformasi,” pesannya.Senada dengan itu, Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Tengah, Ahmad Farichin, menekankan pentingnya peran ganda PMII sebagai mitra strategis sekaligus mitra kritis. Ia mendorong seluruh kader PMII di daerah untuk aktif menjalin komunikasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).“PMII harus mampu mengiringi perkembangan zaman, menjadi organisasi yang adaptif, serta mampu membangun kolaborasi dengan pemerintah di masing-masing daerah,” katanya.Di sisi lain, Ketua PC PMII Pekalongan yang baru dilantik, Ahmad Nur Khozin, menegaskan bahwa PMII memiliki landasan nilai yang kuat melalui konsep trilogi, yakni dzikir, fikir, dan amal saleh. Ia menyebut nilai tersebut menjadi ruh gerakan PMII dalam mencetak kader yang berintegritas, intelektual, dan profesional.“Rumusan tersebut bukan sekadar jargon, tetapi menjadi nilai filosofis PMII dalam mewujudkan kader sebagai insan ulul albab,” jelasnya.Khozin juga menekankan pentingnya empati dan kepekaan sosial di tengah era pasca-kebenaran, serta menegaskan bahwa kader PMII harus mampu menjadi agen perbaikan di masyarakat.“Momentum pelantikan ini tidak hanya seremonial, tetapi menjadi peneguhan nilai dalam memperjuangkan khittah pergerakan,” pungkasnya.Kegiatan pelantikan turut dihadiri Ketua DPRD Abdul Munir, unsur Forkopimda seperti Kapolres Pekalongan dan Dandim 0710 Pekalongan, jajaran pemerintah daerah, serta tokoh akademisi, organisasi kemasyarakatan, dan tamu undangan lainnya.
02 May 2026 32
PC PMII Pekalongan Gelar Bimtek SIKAT APPs untuk Penguatan Administrasi Kaderisasi
Berita
PC PMII Pekalongan Gelar Bimtek SIKAT APPs untuk Penguatan Administrasi Kaderisasi
Pekalongan — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pekalongan menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) SIKAT APPs (Sistem Informasi Kaderisasi dan Administrasi Terpadu) pada Senin, 27 April 2026. Kegiatan ini berlangsung di Sekretariat PC PMII Pekalongan dan diikuti oleh delegasi dari seluruh Pengurus Komisariat di bawah naungan PC PMII Pekalongan.Bimtek ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader dalam pengelolaan administrasi dan kaderisasi berbasis digital melalui platform SIKAT APPs. Dengan sistem ini, diharapkan proses pendataan, monitoring, serta evaluasi kaderisasi dapat berjalan lebih efektif, terstruktur, dan transparan.Sahabat Nurul Iman selaku Sekretaris PC PMII Pekalongan bertindak sebagai tutor dalam kegiatan tersebut. Ia menyampaikan pentingnya transformasi digital dalam organisasi untuk menjawab tantangan zaman serta memperkuat tata kelola organisasi yang profesional.“SIKAT APPs bukan sekadar alat, tapi bagian dari ikhtiar kita untuk menata kaderisasi yang lebih rapi, akuntabel, dan berkelanjutan,” ujarnya.Turut mendampingi sebagai pendamping tutor, Sahabat Mahfud Samsul Arifin selaku Koordinator Biro Media, Riset, dan Publikasi PC PMII Pekalongan. Ia membantu peserta dalam praktik teknis penggunaan aplikasi serta memberikan pemahaman terkait integrasi data kaderisasi dengan kebutuhan publikasi organisasi.Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi praktik langsung, tanya jawab, serta diskusi terkait kendala yang dihadapi komisariat dalam pengelolaan administrasi.Melalui Bimtek ini, PC PMII Pekalongan berharap seluruh komisariat mampu mengimplementasikan SIKAT APPs secara optimal demi terwujudnya sistem kaderisasi yang modern dan terintegrasi.
02 May 2026 34
Rakercab PMII Pekalongan 2026: Reorientasi Gerakan Menuju Organisasi Digdaya dan Berkelanjutan
Berita
Rakercab PMII Pekalongan 2026: Reorientasi Gerakan Menuju Organisasi Digdaya dan Berkelanjutan
Pekalongan – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pekalongan menggelar Rapat Kerja Pengurus Cabang (Rakercab) tahun 2026 dengan penuh kekhidmatan dan semangat kolektif. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 25 Februari 2026 di Gedung PCNU Kota Pekalongan ini menjadi momentum awal dalam merumuskan arah strategis organisasi ke depan.Mengusung tema “Reorientasi PC PMII Pekalongan Menuju Organisasi Digdaya dan Berkelanjutan”, forum ini tidak hanya diposisikan sebagai agenda administratif semata, melainkan sebagai ruang ideologis yang meniscayakan dialektika gagasan. Para peserta yang terdiri dari jajaran calon kepengurusan cabang terlibat aktif dalam proses konsolidasi awal guna mempertegas orientasi gerakan yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga relevan secara sosial.Dalam dinamika pembahasan, Nilai Dasar Pergerakan (NDP) kembali ditegaskan sebagai landasan utama dalam setiap langkah organisasi. NDP dipahami sebagai pijakan etik, moral, dan intelektual yang harus terimplementasi dalam praksis gerakan, bukan sekadar menjadi dokumen normatif. Kesadaran ini menjadi penting untuk memastikan bahwa arah gerak PMII tetap berpijak pada nilai sekaligus responsif terhadap realitas.Forum juga menyoroti pentingnya keluar dari jebakan rutinitas administratif yang kerap membatasi ruang gerak organisasi. PMII Pekalongan diharapkan tidak hanya berkutat pada kerja-kerja struktural, tetapi mampu membangun kolektivitas gerakan yang konkret, berdampak, dan berkelanjutan. Dengan demikian, organisasi dapat lebih adaptif dalam merespons berbagai persoalan sosial, baik di tingkat lokal maupun global.Salah satu fokus utama yang disepakati dalam Rakercab ini adalah isu lingkungan hidup. Gagasan PMII Eco Movement dirumuskan sebagai arah strategis gerakan yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan kesadaran ekologis, sebagai wujud nyata dari konsep hablum minal alam. Krisis ekologis yang semakin nyata dinilai menuntut keterlibatan aktif PMII dalam menghadirkan solusi yang berkelanjutan.Ketua PC PMII Pekalongan, Sahabat Ahmad Nur Khozin, menegaskan bahwa program kerja yang dirumuskan harus memiliki orientasi jangka panjang dan tidak terjebak pada kegiatan seremonial. “Organisasi ini harus dibangun tidak hanya digdaya dalam struktur, tetapi juga berkelanjutan dalam gerakan—mengakar pada nilai, berpijak pada realitas, dan bergerak untuk perubahan,” tegasnya.Melalui Rakercab ini, PC PMII Pekalongan menegaskan komitmennya untuk membangun organisasi yang progresif, ideologis, dan transformatif. Dengan semangat kolektif yang terbangun, PMII Pekalongan optimis mampu menjadi organisasi yang tidak hanya eksis secara struktural, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat.
26 Apr 2026 44
Seminar Lingkungan & Pelatihan Pemeliharaan Tanaman, Ansor Pekalongan Dorong Generasi Hijau
Berita
Seminar Lingkungan & Pelatihan Pemeliharaan Tanaman, Ansor Pekalongan Dorong Generasi Hijau
Pekalongan – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pekalongan menggelar Seminar Lingkungan dan Pelatihan Pemeliharaan Tanaman di Aula PCNU Kabupaten Pekalongan, Minggu (19/4/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Generasi Hijau (Gen-H): Menanam, Tumbuh, dan Berdampak”.Acara tersebut menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan daerah sebagai narasumber, di antaranya Dr. Addin Jauharudin selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor dan Dwi Winarno, M.Si. selaku Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor. Selain itu, turut hadir sebagai keynote speaker Drs. KH. Muslikh Khudlori, M.Si., Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan, serta Dr. M. H. Ali Imron, S.E., M.Si., Rektor ITSNU Pekalongan.Dalam penyampaiannya, KH. Muslikh Khudlori menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama harus hadir di tengah kebutuhan masyarakat, termasuk dalam isu lingkungan. Ia menyampaikan bahwa alam merupakan rahmat dari Allah yang harus dijaga bersama oleh seluruh makhluk.“NU harus hadir di tengah-tengah kebutuhan masyarakat. Alam ini dijadikan Allah sebagai rahmat, dan seluruh ciptaan-Nya adalah makhluk yang harus hidup berdampingan serta saling menjaga,” ujarnya.Ia juga menekankan pentingnya pendekatan agama dan sosial dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari jihad.“Jihad bukan hanya soal mengangkat senjata. Upaya menjaga kelestarian lingkungan juga termasuk jihad,” tambahnya.Sementara itu, Rektor ITSNU Pekalongan, H. Ali Imron, menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Ia menyebut bahwa persoalan utama saat ini adalah rendahnya kepedulian terhadap kelestarian alam.“Satu pohon yang ditanam hari ini adalah harapan untuk hari esok,” ungkapnya.Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi sebagai solusi dalam pelestarian lingkungan. Menurutnya, perkembangan teknologi yang pesat harus dimanfaatkan untuk menjawab tantangan global terkait isu lingkungan.“Kampus memiliki peran strategis sebagai pusat inovasi dan edukasi. Teknologi harus mampu menjembatani masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan,” jelasnya.H. Ali Imron memaparkan beberapa teknologi yang dapat digunakan, seperti Internet of Things (IoT) untuk monitoring lingkungan, Big Data untuk analisis perubahan lingkungan, serta Artificial Intelligence (AI) untuk prediksi dan mitigasi bencana.Melalui kegiatan ini, GP Ansor Kabupaten Pekalongan berharap dapat mendorong lahirnya generasi muda yang peduli lingkungan serta mampu memberikan dampak nyata bagi keberlanjutan alam di masa depan.
22 Apr 2026 38
DOA BERSAMA DAN REFLEKSI PERGERAKAN: Dalam Rangka Memperingati Harlah PMII Ke-66
Berita
DOA BERSAMA DAN REFLEKSI PERGERAKAN: Dalam Rangka Memperingati Harlah PMII Ke-66
Pekalongan – Dalam rangka memperingati Harlah PMII ke-66, PC PMII Pekalongan menyelenggarakan doa bersama dan refleksi pergerakan di Sekretariat PC PMII Pekalongan, Sabtu (18/04/2026).Kegiatan ini diawali dengan pembacaan sholawat nariyah dan asmaul khusna, kemudian disambung dengan diskusi refleksi pergerakan. Dalam forum tersebut, PC PMII Pekalongan membahas pentingnya warga pergerakan dalam merefleksikan nilai-nilai ideologis. Sebagai kader dan warga pergerakan harus sadar akan pentingnya kembali menanamkan nilai-nilai tersebut dalam pribadi masing-masing.Kegiatan ini dipandu oleh Sahabat Farizul Haq sebagai moderator. Dalam diskusi ini ada beberapa poin yang harus menjadi perhatian bersama sebagai warga pergerakan.Sahabat Farizul Haq sebagai moderator memberikan prolog tentang Islahul Ummah. Ia menjelaskan bahwa PMII sebagai Islahul Ummah artinya harus menjadi pelopor perbaikan di tengah masyarakat.“PMII sebagai Islahul Ummah artinya kita harus jadi pelopor perbaikan di tengah masyarakat. Kita nggak boleh cuma pintar teori atau jago diskusi di sekretariat saja, tapi harus bisa jadi solusi nyata buat umat. Caranya adalah dengan membenahi pola pikir yang kaku menjadi lebih terbuka dan moderat, supaya masyarakat nggak gampang terpecah belah oleh isu-isu yang merusak persatuan,” paparnya.Selain itu, ia menambahkan bahwa tugas kader PMII adalah hadir dan membela rakyat kecil yang tertindas, berani menyuarakan kebenaran, serta mengawal kebijakan pemerintah agar selalu pro-rakyat.“Jadi, inti dari perjuangan kita bukan soal gaya-gayaan jadi aktivis, tapi tentang bagaimana kehadiran kita benar-benar membawa manfaat, kedamaian, dan keadilan buat semua orang sesuai nilai nilai yang termaktub,” lanjutnya.Diskusi kemudian dilanjutkan secara interaktif oleh pengurus cabang. Sahabat Yusuf selaku Wakil Ketua Bidang Keagamaan menyampaikan urgensi amaliyah Nahdliyah.Ia menjelaskan bahwa amaliyah Nahdliyah pada kader PMII menjadi aspek yang perlu diperhatikan pada setiap jenjang kaderisasi. Perhatian tersebut didasarkan pada adanya variasi praktik yang memunculkan polemik organisasi, terutama ketika amalan yang semestinya dijalankan secara konsisten di setiap tingkat kepengurusan tidak terlaksana secara optimal.Ketidakkonsistenan ini berimplikasi pada munculnya persoalan mendasar dalam dinamika organisasi. Kondisi tersebut menuntut adanya pembaruan dalam pengelolaan amaliyah yang disusun secara sistematis dan terstruktur.Pengelolaan yang terarah diharapkan dapat membentuk kebiasaan kader dalam merefleksikan setiap langkah pergerakan secara kritis dan berkesinambungan, sehingga praktik amaliyah tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga terinternalisasi dalam aktivitas organisasi sehari-hari.Selanjutnya, Sahabat Wisnu Akbar P. membicarakan masa depan PMII. Ia menyampaikan bahwa dinamika keorganisasian seharusnya menjadi proses pendewasaan. Namun, paradoks yang sering terjadi adalah dinamika tersebut tidak selalu menguatkan, melainkan justru melemahkan.Menurutnya, PMII harus beranjak dari sistematika organisasi yang kaku menuju bentuk yang lebih segar, di mana organisasi mampu menjadi ruang apresiasi kader dan membangun jejaring yang berkelanjutan.Karenanya, pembelajaran bagi kader harus memiliki fokus pada perubahan serta dampak yang jelas dan konkret. Hal tersebut menjadi warisan bagi generasi mendatang, sebagai bentuk gerakan yang dapat direplikasi dan dimodifikasi sesuai dengan perkembangan zaman.Ketua PC PMII Pekalongan, Sahabat Ahmad Nur Khozin, menegaskan pentingnya representasi insan ulul albab dalam tubuh PMII.Ia menyampaikan bahwa perbincangan dewasa ini tak pernah lepas dari transformasi global serta disrupsi digital. Dunia hari ini berjalan lebih cepat dari pengembangan sumber daya manusia itu sendiri, sehingga PMII hampir bisa dikatakan sedang berada pada ujung menara gading—gagap dan gagal memaknai realitas.“Bahwa menjadi insan ulul albab ialah merupakan ruh dari warga muslim, bukan hanya untuk PMII,” tegasnya.Menurutnya, sebagai kader PMII yang selayaknya seorang muslim, sudah tidak perlu lagi mempertanyakan posisi sebagai insan ulul albab, karena hal tersebut merupakan moralitas dasar dalam berorganisasi di PMII.Ia juga menekankan bahwa pekerjaan rumah PMII bukan hanya kaderisasi seremonial, melainkan penggemblengan kapasitas dan kesadaran diri sebagai proyeksi ideologis. Tujuannya adalah membentuk pribadi kader yang bertakwa, mampu mawas diri terhadap realitas hari ini, serta adaptif terhadap percepatan zaman.Menjadi manusia yang bermoral dan menjadi representasi kader PMII yang insan ulul albab merupakan cita-cita yang harus diwujudkan dalam setiap proses pergerakan.Sebagai penegasan, PMII sebagai Islahul Ummah artinya harus menjadi pelopor perbaikan di tengah masyarakat. Kader PMII tidak boleh hanya pintar teori atau jago diskusi di sekretariat saja, tetapi harus mampu menjadi solusi nyata bagi umat.Dengan membenahi pola pikir yang kaku menjadi lebih terbuka dan moderat, serta keberanian untuk hadir membela rakyat kecil yang tertindas, menyuarakan kebenaran, dan mengawal kebijakan pemerintah agar selalu pro-rakyat, kehadiran PMII diharapkan benar-benar membawa manfaat, kedamaian, dan keadilan bagi semua orang sesuai nilai nilai yang termaktub.
19 Apr 2026 69
Kontemplasi Nilai PMII: PKD XX PK PMII UIN Pekalongan Cetak Kader Militan dan Loyal
Berita
Kontemplasi Nilai PMII: PKD XX PK PMII UIN Pekalongan Cetak Kader Militan dan Loyal
Pekalongan – Pengurus Komisariat (PK) PMII UIN Pekalongan sukses menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Kader Dasar (PKD) ke-XX dengan mengusung tema “Kontemplasi Nilai PMII: Manifestasi Kader Mujahid yang Militan dan Loyal terhadap PMII”. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai 9–12 April 2026, bertempat di SDN 06 Kajen, Kabupaten Pekalongan.PKD merupakan tahapan kaderisasi formal PMII yang bertujuan membentuk karakter kader yang tidak hanya memahami nilai-nilai organisasi, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sosial dan gerakan.M. Islahul Mufid Kamal, selaku steering committee menyampaikan bahwa PKD ke-XX ini dirancang dengan konsep yang menekankan pada penguatan rasa memiliki terhadap organisasi. Menurutnya, kader PMII harus tumbuh tidak sekadar sebagai anggota, tetapi sebagai bagian yang hidup dan bertanggung jawab atas keberlangsungan organisasi.“Konsep besar yang diusung pada PKD ke-XX ini adalah tentang rasa memiliki, rasa tanggung jawab, dan rasa cinta terhadap organisasi PMII, sehingga mampu melahirkan kader yang militan dan terus memberi kemanfaatan bagi lingkungan sekitarnya,” ujarnya.Ia juga menambahkan bahwa kader PMII dituntut untuk tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi mampu menghadirkan dampak nyata di tengah masyarakat. Oleh karena itu, proses kaderisasi dalam PKD dirancang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga reflektif dan aplikatif.Dalam pesannya kepada peserta, Mufid menekankan pentingnya konsistensi dalam berproses di PMII. “Tetap teguh pada prinsip dan setia pada proses. Karena dari proses itulah kader akan ditempa menjadi pribadi yang kuat dan berintegritas,” tambahnya.Sementara itu, Ketua PC PMII Pekalongan, Ahmad Nur Khozin, menegaskan bahwa PKD memiliki posisi strategis dalam menjawab tantangan kaderisasi di tengah era disrupsi yang ditandai dengan derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang cepat. Menurutnya, PKD bukan sekadar ruang transfer pengetahuan, tetapi menjadi momentum penting dalam membentuk ketahanan ideologis kader agar tidak mudah tercerabut dari nilai-nilai dasar PMII.“Di era disrupsi ini, kader PMII tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki fondasi ideologis yang kuat. PKD menjadi titik awal untuk memastikan kader tetap berpijak pada nilai, di tengah gempuran pragmatisme dan instanisme,” ujarnya.Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa dalam konteks lokal Pekalongan, kader PMII dihadapkan pada berbagai problem nyata, mulai dari rendahnya kesadaran kritis generasi muda, persoalan ekonomi masyarakat, hingga minimnya keterlibatan mahasiswa dalam isu-isu sosial.Menurutnya, kader hasil PKD harus mampu hadir sebagai solusi, bukan sekadar menjadi pengamat. “Problem yang paling mendesak di Pekalongan adalah bagaimana membangkitkan kesadaran kritis mahasiswa dan keberpihakan terhadap masyarakat. Kader PMII harus turun, membaca realitas, dan mengambil peran dalam menjawab persoalan-persoalan sosial yang ada,” tambahnya.Ia berharap, melalui PKD ini, lahir kader-kader yang tidak hanya loyal terhadap organisasi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan keberanian untuk bergerak di tengah masyarakat.
12 Apr 2026 45
Kab. Pemalang, Kota/Kab. Pekalongan dan Kab. Batang akan dibangun PSEL: Solusi Sampah atau Bom Waktu Ekologis?
Opini
Kab. Pemalang, Kota/Kab. Pekalongan dan Kab. Batang akan dibangun PSEL: Solusi Sampah atau Bom Waktu Ekologis?
Oleh: Wisnu Akbar Prihatnala (Koordinator Biro Advokasi Kebijakan Publik PC PMII Pekalongan)Udah denger belum bat, 4 daerah mulai dari Pemalang, Pekalongan, Kota Pekalongan, dan Batang bakal dibangun PSEL (Pengolah Sampah jadi Energi Listrik) sebagai jawaban krisis sampah di Pekalongan Raya hari ini.Dan ini jadi upaya Proyek Strategis Nasional dalam menghadapi krisis ekologis.Eitts, tapi betul gak sih proyek ini bakal menjawab tantangan tersebut? Yang pasti dampak jangka panjang pun pasti bakal ada nihh.. Apalagi bicara tempat sekitar PSEL yang bakal dibangun.Nah rencananya, proyek ini bakal dibangun di deket Exit Tol Setono. Menurut sahabat, proyek ini ideal gak sih, diletakan di situ? Atau harus ada opsi tempat lain dengan mempertimbangkan dampak dan segala macamnya?
09 Apr 2026 84
Menyoal Keberlangsungan Lingkungan Hidup dan Literasi Pendidikan: PC PMII Pekalongan Soroti Krisis Lingkungan dan Rendahnya Literasi
Berita
Menyoal Keberlangsungan Lingkungan Hidup dan Literasi Pendidikan: PC PMII Pekalongan Soroti Krisis Lingkungan dan Rendahnya Literasi
Pekalongan, 4 April 2026 – Forum diskusi panel yang digelar FTBM Kabupaten Pekalongan di Rumah Baca Pintar menjadi wadah kritis bagi para pegiat untuk menyoroti kondisi pendidikan dan lingkungan hidup. Acara ini dihadiri oleh berbagai komunitas literasi, Plt Bupati Bapak H. Sukirman, S.S., M.S., serta Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan Bapak Drs. H. Abdul Munir, M.M.Salah satu sorotan tajam datang dari Handono Warih (Abu Waswas, sapaan akrabnya), jurnalis sekaligus pegiat lingkungan, yang menyampaikan keprihatinannya secara emosional."Saya sedih, karena literasi petani hari ini tidak ada yang konsen. Saya menjalani pertanian organik rasanya seperti di pinggiran. Saya menahan perasaan ini bertahun-tahun, sampai harus menyamar jadi wartawan demi bisa mengakses eksekutif dan legislatif," ujarnya.Menanggapi hal tersebut, PC PMII Pekalongan melalui Mandataris Ketua, Sahabat Ahmad Nur Khozin, menegaskan bahwa isu lingkungan hidup bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan masyarakat sebagai subjek yang terdampak harus bergerak seirama."Kerja nyata pemerintah tidak cukup hanya sebatas sosialisasi dan pemberian program. Masalah ekologis di Pekalongan tidak hanya soal pertanian, melainkan juga lemahnya pemahaman dalam mengelola lingkungan itu sendiri. Jika kebijakan berkelanjutan ingin dijalankan, maka kesadaran SDM harus dibangun mulai dari akar, yaitu melalui pendidikan ekologis," tegasnya.Lebih jauh, literasi tidak sekadar kemampuan baca-tulis, melainkan tingkat pemahaman dan kesadaran untuk bertindak. Fakta menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Pekalongan tahun 2023 berada di urutan ke-8 dari bawah se-Jawa Tengah. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan belum pernah menjadi prioritas utama dalam pembangunan berkelanjutan selama ini.
06 Apr 2026 87
Rebranding PMII Pekalongan: Ahmad Nur Khozin Nahkodai PMII Pekalongan Menuju Organisasi Digdaya Berkelanjutan
Opini
Rebranding PMII Pekalongan: Ahmad Nur Khozin Nahkodai PMII Pekalongan Menuju Organisasi Digdaya Berkelanjutan
Pekalongan – Ketua Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pekalongan masa khidmat 2026–2027, Ahmad Nur Khozin, resmi mengusung visi besar bertajuk “Rebranding PC PMII Pekalongan menuju organisasi digdaya dan berkelanjutan berlandaskan Nilai Dasar Pergerakan (NDP)”.Visi ini menjadi arah baru dalam menjawab tantangan zaman yang semakin dinamis, di mana organisasi mahasiswa dituntut tidak hanya eksis, tetapi juga relevan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.Dalam keterangannya, Khozin menegaskan bahwa rebranding yang dimaksud bukan sekadar perubahan simbolik seperti logo atau slogan, melainkan langkah strategis untuk mengontekstualisasikan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) ke dalam realitas sosial kekinian.“PMII harus tetap berakar pada ideologi, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman. Digdaya berarti kuat secara intelektual dan mandiri, sementara berkelanjutan berarti setiap kepemimpinan membawa kemajuan yang konsisten,” ujarnya.Kaderisasi Jadi Episentrum GerakanSebagai langkah konkret, PC PMII Pekalongan menempatkan kaderisasi sebagai pusat gerakan organisasi. Program kaderisasi seperti MAPABA, PKD, dan PKL tidak lagi dipandang sebagai formalitas, melainkan sebagai proses pembentukan kader yang utuh.Melalui pendekatan ini, PMII Pekalongan diharapkan mampu melahirkan kader yang tidak hanya militan secara ideologis, tetapi juga adaptif terhadap berbagai isu lokal, seperti ketenagakerjaan, lingkungan, hingga ekonomi kreatif.Profesionalitas dan Kolektivitas DiperkuatDalam mewujudkan organisasi yang digdaya, profesionalitas menjadi fokus utama. Hal ini mencakup penataan administrasi, pemanfaatan teknologi informasi, serta peningkatan akuntabilitas organisasi.Namun demikian, Khozin menekankan bahwa profesionalitas harus tetap berjalan seiring dengan nilai kolektivitas. Keputusan organisasi diharapkan lahir dari dialektika yang sehat dan dilaksanakan secara gotong royong, sehingga semangat kebersamaan tetap terjaga.Perluasan Jaringan GerakanSelain itu, penguatan jaringan menjadi bagian penting dalam misi kepemimpinan ini. PC PMII Pekalongan akan mendorong sinergi di tiga sektor utama, yakni intelektual, keorganisasian, dan keprofesian.Jaringan intelektual diarahkan untuk memperkuat kajian dan analisis kebijakan, sementara jaringan keorganisasian akan melibatkan kolaborasi dengan alumni, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, serta pemerintah daerah. Adapun jaringan keprofesian difokuskan pada pengembangan potensi kader di dunia kerja.Komitmen Menuju Transformasi OrganisasiVisi dan misi yang diusung ini menjadi komitmen bersama untuk membawa PC PMII Pekalongan keluar dari zona nyaman menuju organisasi yang lebih progresif.Dengan berlandaskan Nilai Dasar Pergerakan, kepemimpinan Ahmad Nur Khozin diharapkan mampu menjadikan PMII Pekalongan tidak hanya besar secara kuantitas, tetapi juga kuat dan berwibawa secara kualitas.Transformasi ini sekaligus menegaskan peran PMII sebagai rumah bagi kader intelektual organik yang siap mengabdi demi kemajuan agama, bangsa, dan negara.
06 Apr 2026 93
Sinergi PMII untuk Pekalongan: KOPDAR Netizen Julid
Berita
Sinergi PMII untuk Pekalongan: KOPDAR Netizen Julid
Pekalongan - Ruang diskusi publik di Cafe Landscape Area Kedungwuni kini semakin dinamis. Sebuah kegiatan kopi darat (kopdar) Netizen Julid yang digelar baru-baru ini menjadi sorotan, lantaran mempertemukan berbagai elemen masyarakat digital dengan para pemangku kebijakan daerah.Acara yang berlangsung dalam suasana hangat namun penuh gagasan ini dihadiri langsung oleh Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan serta Plt. Bupati Pekalongan. Kehadiran dua pimpinan daerah tersebut menunjukkan keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi yang berkembang di media sosial.Dalam kesempatan tersebut, dialog mengalir seputar tantangan pembangunan dan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat, khususnya generasi melek digital.Salah satu poin penting dalam pertemuan ini adalah bahwa kita sebagai Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pekalongan secara tegas menyatakan dukungan terhadap upaya pembenahan tata kelola pemerintahan di Kabupaten Pekalongan.Dalam diskusi yang mengalir, Pengurus Cabang PMII Pekalongan menekankan bahwa siap berkolaborasi dan berkontribusi aktif dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Fokus utama yang kita soroti adalah pentingnya transparansi, akuntabilitas, serta penerapan prinsip-prinsip profesionalisme dalam birokrasi daerah.Lebih jauh, kita juga menekankan pentingnya paradigma pembangunan yang berwawasan lingkungan. Komitmen yang kita bangun ialah untuk mengawal kebijakan-kebijakan daerah agar tetap selaras dengan kelestarian ekosistem dan pembangunan yang berkelanjutan bagi masa depan Kabupaten Pekalongan.Mandataris Ketua PC PMII Pekalongan “Sahabat ”Ahmad Nur Khozin", menyatakan: Bahwa kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita, namun meminjamnya dari anak cucu kita. Tentunya kita mendorong bahwa pembangunan berkelanjutan ialah bukan hanya perihal infrastruktur mewah dan megah, namun bicara perihal warisan apa yang akan kita tinggalkan. Pentingnya integritas dalam pola kepemimpinan daerah serta pembacaan keadaan lingkungan hari ini ialah bentuk kepedulian pada generasi di bawah kita sebagai penerus perjuangan dalam membenahi kehidupan ke arah lebih baik, terkhusus di Kabupaten Pekalongan.Ketua DPRD "Drs. H. Abdul Munir, M.M". dan Plt. Bupati "H. Sukirman, S.S., M.S", menyambut baik inisiatif dan masukan yang disampaikan oleh netizen serta elemen mahasiswa. Diskusi ini dianggap sebagai modal sosial yang penting untuk menyerap aspirasi secara lebih luas dan real-time.Kopdar ini pun diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk terus menjaga komunikasi yang sehat. Sinergi antara pemerintah daerah, pemikiran kritis mahasiswa, dan keterlibatan aktif masyarakat digital diharapkan mampu menjadi akselerator perubahan positif bagi Kabupaten Pekalongan yang lebih maju dan berintegritas.
06 Apr 2026 58