Warta Pergerakan - PC PMII Pekalongan

Warta Pergerakan

Kabar terkini dan opini kader PMII Pekalongan

Menampilkan hasil: "Keislaman" Reset
Rektor ITSNU Dorong Penguatan Intelektual Kader NU Melalui PKD PMII
Berita
Rektor ITSNU Dorong Penguatan Intelektual Kader NU Melalui PKD PMII
Pekalongan — Rektor Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pekalongan, Dr. M. H. Ali Imron, S.E., M.Si., mendorong penguatan intelektual kader Nahdlatul Ulama di lingkungan mahasiswa melalui kegiatan Pelatihan Kader Dasar (PKD) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat ITSNU Pekalongan. Kegiatan tersebut resmi dibuka pada Kamis, 11 Juni 2026, bertempat di Aula Gedung A ITSNU Pekalongan.PKD PMII Komisariat ITSNU Pekalongan tahun ini mengusung tema “Rekonstruksi Militansi Kader Mujahid: Menumbuhkan Komitmen dan Integritas untuk Keberlangsungan Pergerakan di Tengah Dinamika Zaman.” Tema tersebut menjadi penegasan bahwa kaderisasi PMII tidak hanya diarahkan untuk membentuk anggota yang aktif secara organisatoris, tetapi juga mencetak kader yang memiliki kesadaran ideologis, ketajaman intelektual, integritas moral, serta komitmen terhadap nilai-nilai pergerakan.Dalam sambutannya, Rektor ITSNU Pekalongan, Dr. M. H. Ali Imron, menyampaikan bahwa PMII memiliki peran penting dalam membentuk kader mahasiswa NU yang mampu menjadi representasi keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan. Menurutnya, kader PMII harus mampu mencerminkan tradisi intelektual Nahdlatul Ulama dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dalam kehidupan akademik maupun sosial.“Kader PMII harus mampu mewakili cerminan keilmuan NU dan Aswaja. Sebagai mahasiswa, kader tidak cukup hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga harus memiliki kapasitas keilmuan, cara berpikir yang matang, serta kemampuan membaca perubahan zaman,” ungkapnya.Rektor juga menegaskan bahwa kaderisasi mahasiswa NU harus dipandang sebagai proses jangka panjang. Menurutnya, keberhasilan PKD tidak hanya diukur dari suksesnya pelaksanaan kegiatan selama forum berlangsung, tetapi juga dari bagaimana kader mampu melanjutkan proses belajar, berorganisasi, dan mengembangkan kapasitas diri setelah kegiatan selesai.“Fokus PKD bukan hanya pada saat pelaksanaan, tetapi juga pada pasca-PKD. Setelah kegiatan ini selesai, kader harus tetap didampingi, diarahkan, dan diberi ruang untuk mengembangkan potensi keilmuannya,” tegasnya.Ia menambahkan bahwa ITSNU Pekalongan mendukung segala bentuk kegiatan kaderisasi yang berorientasi pada penguatan intelektual mahasiswa, terutama kegiatan yang mampu menghubungkan tradisi keilmuan kampus dengan nilai-nilai ke-NU-an. Menurutnya, PMII sebagai organisasi kemahasiswaan memiliki ruang strategis untuk menumbuhkan tradisi diskusi, kajian, riset, kepemimpinan, serta pengabdian kepada masyarakat.Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisariat PMII ITSNU Pekalongan, Misbakhul Anam, menyampaikan bahwa tema PKD kali ini lahir dari kebutuhan untuk meneguhkan kembali militansi kader di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Menurutnya, militansi kader tidak boleh dimaknai secara sempit sebagai keberanian bergerak semata, melainkan harus dibangun di atas komitmen, integritas, kedisiplinan, dan kesadaran ideologis.Ia juga mengutip pesan Ketua Umum PB PMII pertama, Mahbub Djunaidi, bahwa kader harus “berpegang teguh pada prinsip, setia pada proses.” Kutipan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat penting bagi seluruh peserta PKD agar tidak mudah goyah dalam memegang nilai perjuangan, sekaligus sabar dan konsisten menjalani proses kaderisasi di PMII.“Rekonstruksi militansi kader mujahid merupakan ikhtiar untuk meneguhkan kembali arah gerak kader PMII. Kader harus memiliki komitmen yang kuat, integritas yang kokoh, serta kesetiaan terhadap proses. Sebab, kader PMII tidak hanya dituntut mampu berbicara tentang perubahan, tetapi juga harus siap ditempa dalam proses perjuangan yang panjang,” ujarnya.Sementara itu, Sekretaris PC PMII Pekalongan, Nurul Iman, menegaskan bahwa seorang kader PMII harus memahami organisasi secara utuh, baik dari sisi sejarah, nilai, maupun arah perjuangannya. Ia menyampaikan bahwa PMII tidak dapat dilepaskan dari akar historis Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang berpegang teguh pada ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.Menurut Nurul Iman, pesan Mbah Kiai Idham Cholid sebelum berdirinya PMII, yakni bahwa organisasi mahasiswa NU yang kelak dibentuk harus berlandaskan prinsip ilmu untuk amal, menjadi pijakan penting dalam membentuk karakter kader. Prinsip tersebut, lanjutnya, harus menjadi ruh dalam setiap proses kaderisasi PMII.“PMII lahir bukan hanya sebagai ruang berkumpul mahasiswa, tetapi sebagai wadah kaderisasi, perjuangan, dan pengabdian. Prinsip ilmu untuk amal harus menjadi landasan bagi kader dalam menumbuhkan komitmen dan integritas. Ilmu yang dimiliki kader tidak boleh berhenti dalam ruang diskusi, tetapi harus diwujudkan dalam kerja nyata untuk organisasi, masyarakat, agama, dan bangsa,” jelasnya.Mabinkom PMII ITSNU Pekalongan sekaligus Wakil Rektor III ITSNU Pekalongan, Iqbal Notoatmojo, S.H.I., M.E., juga menyampaikan bahwa PMII merupakan bagian penting dari proses kaderisasi NU di lingkungan mahasiswa. Ia menekankan pentingnya kader PMII untuk memperkuat jejaring, membangun kapasitas intelektual, dan memperluas wawasan agar mampu menghadapi dinamika zaman.“PMII adalah bagian dari kaderisasi NU. Maka kader PMII harus mampu berjejaring, memperkuat intelektualitas, dan hadir sebagai mahasiswa yang memiliki arah perjuangan yang jelas,” tuturnya.Pembukaan PKD tersebut turut dihadiri oleh jajaran Rektorat ITSNU Pekalongan, jajaran Majelis Pembina Komisariat, Pengurus Cabang PMII Pekalongan, serta peserta dari internal Komisariat PMII ITSNU Pekalongan dan peserta eksternal dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.Acara pembukaan PKD PMII Komisariat ITSNU Pekalongan secara resmi dibuka oleh Rektor ITSNU Pekalongan. Melalui kegiatan ini, PMII Komisariat ITSNU Pekalongan diharapkan mampu melahirkan kader-kader NU yang militan, berintegritas, berkomitmen, serta memiliki kapasitas intelektual yang kuat dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai pergerakan di tengah dinamika zaman.
11 Jun 2026 322
Pesantren dan Santri adalah Pejuang Bangsa: Jangan Bunuh Kepercayaan Masyarakat kepada Pesantren!
Opini
Pesantren dan Santri adalah Pejuang Bangsa: Jangan Bunuh Kepercayaan Masyarakat kepada Pesantren!
Pesantren dan santri merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia. Jauh sebelum Indonesia merdeka, pesantren telah menjadi pusat pendidikan, perlawanan, sekaligus pembentukan karakter umat. Dari bilik-bilik sederhana yang diterangi lampu minyak, lahirlah para pejuang yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki semangat membela tanah air dan menjaga martabat kemanusiaan. Karena itu, santri bukan sekadar pelajar agama, melainkan pejuang bangsa yang telah menorehkan sejarah besar dalam perjalanan Indonesia.Sejarah mencatat bahwa perlawanan terhadap penjajah banyak digerakkan oleh para ulama dan santri. Perang Diponegoro, Perang Aceh, hingga Resolusi Jihad yang dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 menjadi bukti nyata bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa. Fatwa Resolusi Jihad mendorong rakyat dan santri untuk melawan penjajah demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dari pesantren lahir keberanian, keteguhan iman, dan semangat pengorbanan untuk negeri.Pesantren juga menjadi pusat peradaban Islam Nusantara yang mengajarkan akhlak, adab, ilmu, dan nilai kemanusiaan. Di dalamnya, para santri diajarkan menghormati guru, menyayangi sesama, menjaga kehormatan diri, dan menebarkan kasih sayang. Karena itu, pesantren memiliki posisi mulia di mata masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadap pondok pesantren dibangun melalui perjuangan panjang para kiai dan ulama yang hidup sederhana, ikhlas mengajar, dan mengabdikan hidupnya untuk umat.Namun hari ini, kepercayaan itu mulai ternoda oleh tindakan keji sebagian oknum yang melakukan kekerasan maupun pelecehan seksual di lingkungan pondok pesantren. Tindakan asusila tersebut bukan hanya melanggar hukum negara, tetapi juga menghancurkan nilai-nilai luhur pesantren yang diwariskan para ulama terdahulu. Perbuatan itu adalah pengkhianatan terhadap amanah pendidikan, pengkhianatan terhadap agama, dan pengkhianatan terhadap perjuangan para santri yang telah mengorbankan jiwa demi bangsa ini.Islam dengan tegas melarang segala bentuk kezaliman, kekerasan, dan pelecehan terhadap sesama manusia, terlebih terhadap anak dan peserta didik yang seharusnya mendapatkan perlindungan, pendidikan, dan kasih sayang.إِنَّ اللّٰهَيَأْمُرُ بِالْعَدْلِوَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِذِي الْقُرْبَىٰوَيَنْهَىٰ عَنِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِوَالْبَغْيِ“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan… dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.” (QS. An-Nahl: 90).مَنْ رَأَىٰمِنْكُمْ مُنْكَرًافَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ،فَإِنْ لَمْيَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ،فَإِنْ لَمْيَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِوَذَٰلِكَ أَضْعَفُالْإِيمَانِ“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan, jika tidak mampu maka dengan lisan, jika tidak mampu maka dengan hati, dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)Pesantren harus menjadi ruang keadilan, kasih sayang, dan perlindungan bagi santri. Tidak boleh ada pembiaran terhadap tindakan pelecehan dengan alasan menjaga nama baik lembaga. Menutupi kejahatan justru akan merusak marwah pesantren lebih dalam. Yang harus dijaga bukan nama baik semata, tetapi nilai kebenaran dan keselamatan para santri.Santri adalah harapan masa depan bangsa. Mereka dididik untuk menjadi generasi berakhlak, berilmu, dan bermanfaat bagi masyarakat. Maka seluruh elemen pesantren — pengasuh, ustaz, alumni, wali santri, dan masyarakat — harus bersama-sama menjaga kehormatan lembaga pendidikan ini. Pelaku kekerasan seksual harus ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku agar tidak ada lagi korban berikutnya.Jangan biarkan pesantren kehilangan kepercayaan masyarakat akibat ulah segelintir oknum. Pesantren terlalu besar untuk dikotori oleh tindakan bejat dan keji. Kita harus mengembalikan pesantren sebagai pusat peradaban, tempat lahirnya pejuang bangsa, penjaga moral masyarakat, dan rumah aman bagi para santri dalam menuntut ilmu serta mengabdi kepada agama dan negara. Penulis: Kang Iman x Santri Bajingan (Bar Ngaji Mangan)
27 May 2026 105
DOA BERSAMA DAN REFLEKSI PERGERAKAN: Dalam Rangka Memperingati Harlah PMII Ke-66
Berita
DOA BERSAMA DAN REFLEKSI PERGERAKAN: Dalam Rangka Memperingati Harlah PMII Ke-66
Pekalongan – Dalam rangka memperingati Harlah PMII ke-66, PC PMII Pekalongan menyelenggarakan doa bersama dan refleksi pergerakan di Sekretariat PC PMII Pekalongan, Sabtu (18/04/2026).Kegiatan ini diawali dengan pembacaan sholawat nariyah dan asmaul khusna, kemudian disambung dengan diskusi refleksi pergerakan. Dalam forum tersebut, PC PMII Pekalongan membahas pentingnya warga pergerakan dalam merefleksikan nilai-nilai ideologis. Sebagai kader dan warga pergerakan harus sadar akan pentingnya kembali menanamkan nilai-nilai tersebut dalam pribadi masing-masing.Kegiatan ini dipandu oleh Sahabat Farizul Haq sebagai moderator. Dalam diskusi ini ada beberapa poin yang harus menjadi perhatian bersama sebagai warga pergerakan.Sahabat Farizul Haq sebagai moderator memberikan prolog tentang Islahul Ummah. Ia menjelaskan bahwa PMII sebagai Islahul Ummah artinya harus menjadi pelopor perbaikan di tengah masyarakat.“PMII sebagai Islahul Ummah artinya kita harus jadi pelopor perbaikan di tengah masyarakat. Kita nggak boleh cuma pintar teori atau jago diskusi di sekretariat saja, tapi harus bisa jadi solusi nyata buat umat. Caranya adalah dengan membenahi pola pikir yang kaku menjadi lebih terbuka dan moderat, supaya masyarakat nggak gampang terpecah belah oleh isu-isu yang merusak persatuan,” paparnya.Selain itu, ia menambahkan bahwa tugas kader PMII adalah hadir dan membela rakyat kecil yang tertindas, berani menyuarakan kebenaran, serta mengawal kebijakan pemerintah agar selalu pro-rakyat.“Jadi, inti dari perjuangan kita bukan soal gaya-gayaan jadi aktivis, tapi tentang bagaimana kehadiran kita benar-benar membawa manfaat, kedamaian, dan keadilan buat semua orang sesuai nilai nilai yang termaktub,” lanjutnya.Diskusi kemudian dilanjutkan secara interaktif oleh pengurus cabang. Sahabat Yusuf selaku Wakil Ketua Bidang Keagamaan menyampaikan urgensi amaliyah Nahdliyah.Ia menjelaskan bahwa amaliyah Nahdliyah pada kader PMII menjadi aspek yang perlu diperhatikan pada setiap jenjang kaderisasi. Perhatian tersebut didasarkan pada adanya variasi praktik yang memunculkan polemik organisasi, terutama ketika amalan yang semestinya dijalankan secara konsisten di setiap tingkat kepengurusan tidak terlaksana secara optimal.Ketidakkonsistenan ini berimplikasi pada munculnya persoalan mendasar dalam dinamika organisasi. Kondisi tersebut menuntut adanya pembaruan dalam pengelolaan amaliyah yang disusun secara sistematis dan terstruktur.Pengelolaan yang terarah diharapkan dapat membentuk kebiasaan kader dalam merefleksikan setiap langkah pergerakan secara kritis dan berkesinambungan, sehingga praktik amaliyah tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga terinternalisasi dalam aktivitas organisasi sehari-hari.Selanjutnya, Sahabat Wisnu Akbar P. membicarakan masa depan PMII. Ia menyampaikan bahwa dinamika keorganisasian seharusnya menjadi proses pendewasaan. Namun, paradoks yang sering terjadi adalah dinamika tersebut tidak selalu menguatkan, melainkan justru melemahkan.Menurutnya, PMII harus beranjak dari sistematika organisasi yang kaku menuju bentuk yang lebih segar, di mana organisasi mampu menjadi ruang apresiasi kader dan membangun jejaring yang berkelanjutan.Karenanya, pembelajaran bagi kader harus memiliki fokus pada perubahan serta dampak yang jelas dan konkret. Hal tersebut menjadi warisan bagi generasi mendatang, sebagai bentuk gerakan yang dapat direplikasi dan dimodifikasi sesuai dengan perkembangan zaman.Ketua PC PMII Pekalongan, Sahabat Ahmad Nur Khozin, menegaskan pentingnya representasi insan ulul albab dalam tubuh PMII.Ia menyampaikan bahwa perbincangan dewasa ini tak pernah lepas dari transformasi global serta disrupsi digital. Dunia hari ini berjalan lebih cepat dari pengembangan sumber daya manusia itu sendiri, sehingga PMII hampir bisa dikatakan sedang berada pada ujung menara gading—gagap dan gagal memaknai realitas.“Bahwa menjadi insan ulul albab ialah merupakan ruh dari warga muslim, bukan hanya untuk PMII,” tegasnya.Menurutnya, sebagai kader PMII yang selayaknya seorang muslim, sudah tidak perlu lagi mempertanyakan posisi sebagai insan ulul albab, karena hal tersebut merupakan moralitas dasar dalam berorganisasi di PMII.Ia juga menekankan bahwa pekerjaan rumah PMII bukan hanya kaderisasi seremonial, melainkan penggemblengan kapasitas dan kesadaran diri sebagai proyeksi ideologis. Tujuannya adalah membentuk pribadi kader yang bertakwa, mampu mawas diri terhadap realitas hari ini, serta adaptif terhadap percepatan zaman.Menjadi manusia yang bermoral dan menjadi representasi kader PMII yang insan ulul albab merupakan cita-cita yang harus diwujudkan dalam setiap proses pergerakan.Sebagai penegasan, PMII sebagai Islahul Ummah artinya harus menjadi pelopor perbaikan di tengah masyarakat. Kader PMII tidak boleh hanya pintar teori atau jago diskusi di sekretariat saja, tetapi harus mampu menjadi solusi nyata bagi umat.Dengan membenahi pola pikir yang kaku menjadi lebih terbuka dan moderat, serta keberanian untuk hadir membela rakyat kecil yang tertindas, menyuarakan kebenaran, dan mengawal kebijakan pemerintah agar selalu pro-rakyat, kehadiran PMII diharapkan benar-benar membawa manfaat, kedamaian, dan keadilan bagi semua orang sesuai nilai nilai yang termaktub.
19 Apr 2026 91