Berita
Pekalongan – Dalam rangka memperingati Harlah PMII ke-66, PC PMII Pekalongan menyelenggarakan doa bersama dan refleksi pergerakan di Sekretariat PC PMII Pekalongan, Sabtu (18/04/2026).Kegiatan ini diawali dengan pembacaan sholawat nariyah dan asmaul khusna, kemudian disambung dengan diskusi refleksi pergerakan. Dalam forum tersebut, PC PMII Pekalongan membahas pentingnya warga pergerakan dalam merefleksikan nilai-nilai ideologis. Sebagai kader dan warga pergerakan harus sadar akan pentingnya kembali menanamkan nilai-nilai tersebut dalam pribadi masing-masing.Kegiatan ini dipandu oleh Sahabat Farizul Haq sebagai moderator. Dalam diskusi ini ada beberapa poin yang harus menjadi perhatian bersama sebagai warga pergerakan.Sahabat Farizul Haq sebagai moderator memberikan prolog tentang Islahul Ummah. Ia menjelaskan bahwa PMII sebagai Islahul Ummah artinya harus menjadi pelopor perbaikan di tengah masyarakat.“PMII sebagai Islahul Ummah artinya kita harus jadi pelopor perbaikan di tengah masyarakat. Kita nggak boleh cuma pintar teori atau jago diskusi di sekretariat saja, tapi harus bisa jadi solusi nyata buat umat. Caranya adalah dengan membenahi pola pikir yang kaku menjadi lebih terbuka dan moderat, supaya masyarakat nggak gampang terpecah belah oleh isu-isu yang merusak persatuan,” paparnya.Selain itu, ia menambahkan bahwa tugas kader PMII adalah hadir dan membela rakyat kecil yang tertindas, berani menyuarakan kebenaran, serta mengawal kebijakan pemerintah agar selalu pro-rakyat.“Jadi, inti dari perjuangan kita bukan soal gaya-gayaan jadi aktivis, tapi tentang bagaimana kehadiran kita benar-benar membawa manfaat, kedamaian, dan keadilan buat semua orang sesuai nilai nilai yang termaktub,” lanjutnya.Diskusi kemudian dilanjutkan secara interaktif oleh pengurus cabang. Sahabat Yusuf selaku Wakil Ketua Bidang Keagamaan menyampaikan urgensi amaliyah Nahdliyah.Ia menjelaskan bahwa amaliyah Nahdliyah pada kader PMII menjadi aspek yang perlu diperhatikan pada setiap jenjang kaderisasi. Perhatian tersebut didasarkan pada adanya variasi praktik yang memunculkan polemik organisasi, terutama ketika amalan yang semestinya dijalankan secara konsisten di setiap tingkat kepengurusan tidak terlaksana secara optimal.Ketidakkonsistenan ini berimplikasi pada munculnya persoalan mendasar dalam dinamika organisasi. Kondisi tersebut menuntut adanya pembaruan dalam pengelolaan amaliyah yang disusun secara sistematis dan terstruktur.Pengelolaan yang terarah diharapkan dapat membentuk kebiasaan kader dalam merefleksikan setiap langkah pergerakan secara kritis dan berkesinambungan, sehingga praktik amaliyah tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga terinternalisasi dalam aktivitas organisasi sehari-hari.Selanjutnya, Sahabat Wisnu Akbar P. membicarakan masa depan PMII. Ia menyampaikan bahwa dinamika keorganisasian seharusnya menjadi proses pendewasaan. Namun, paradoks yang sering terjadi adalah dinamika tersebut tidak selalu menguatkan, melainkan justru melemahkan.Menurutnya, PMII harus beranjak dari sistematika organisasi yang kaku menuju bentuk yang lebih segar, di mana organisasi mampu menjadi ruang apresiasi kader dan membangun jejaring yang berkelanjutan.Karenanya, pembelajaran bagi kader harus memiliki fokus pada perubahan serta dampak yang jelas dan konkret. Hal tersebut menjadi warisan bagi generasi mendatang, sebagai bentuk gerakan yang dapat direplikasi dan dimodifikasi sesuai dengan perkembangan zaman.Ketua PC PMII Pekalongan, Sahabat Ahmad Nur Khozin, menegaskan pentingnya representasi insan ulul albab dalam tubuh PMII.Ia menyampaikan bahwa perbincangan dewasa ini tak pernah lepas dari transformasi global serta disrupsi digital. Dunia hari ini berjalan lebih cepat dari pengembangan sumber daya manusia itu sendiri, sehingga PMII hampir bisa dikatakan sedang berada pada ujung menara gading—gagap dan gagal memaknai realitas.“Bahwa menjadi insan ulul albab ialah merupakan ruh dari warga muslim, bukan hanya untuk PMII,” tegasnya.Menurutnya, sebagai kader PMII yang selayaknya seorang muslim, sudah tidak perlu lagi mempertanyakan posisi sebagai insan ulul albab, karena hal tersebut merupakan moralitas dasar dalam berorganisasi di PMII.Ia juga menekankan bahwa pekerjaan rumah PMII bukan hanya kaderisasi seremonial, melainkan penggemblengan kapasitas dan kesadaran diri sebagai proyeksi ideologis. Tujuannya adalah membentuk pribadi kader yang bertakwa, mampu mawas diri terhadap realitas hari ini, serta adaptif terhadap percepatan zaman.Menjadi manusia yang bermoral dan menjadi representasi kader PMII yang insan ulul albab merupakan cita-cita yang harus diwujudkan dalam setiap proses pergerakan.Sebagai penegasan, PMII sebagai Islahul Ummah artinya harus menjadi pelopor perbaikan di tengah masyarakat. Kader PMII tidak boleh hanya pintar teori atau jago diskusi di sekretariat saja, tetapi harus mampu menjadi solusi nyata bagi umat.Dengan membenahi pola pikir yang kaku menjadi lebih terbuka dan moderat, serta keberanian untuk hadir membela rakyat kecil yang tertindas, menyuarakan kebenaran, dan mengawal kebijakan pemerintah agar selalu pro-rakyat, kehadiran PMII diharapkan benar-benar membawa manfaat, kedamaian, dan keadilan bagi semua orang sesuai nilai nilai yang termaktub.
19 Apr 2026
21