Rayon Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Dorong Budaya Diskusi sejak MAPABA
Pekalongan — Rayon Tarbiyah dan Ilmu Keguruan PMII Komisariat Ki Ageng Ganjur UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) pada 18–20 September 2026 di SMK Islam Salakbrojo. Kegiatan tersebut mengusung tema “Membangun Pondasi, Membangun Budaya Diskusi”.
Sebanyak 42 anggota baru mengikuti pembaiatan sebagai bagian dari rangkaian MAPABA. Kegiatan ini menjadi tahap awal bagi anggota baru untuk mengenal PMII sekaligus memulai proses kaderisasi di lingkungan Rayon Tarbiyah.
Ketua Rayon Tarbiyah, Muhammad Ilham Assyifa, mengatakan MAPABA tidak hanya menjadi proses penerimaan anggota baru, tetapi juga menjadi awal untuk membangun kesadaran dan rasa memiliki terhadap PMII.
“Mereka diharapkan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam PMII, memiliki keberanian untuk berdiskusi, mulai terbiasa belajar bersama, serta mau terlibat dalam kehidupan rayon dan mau bertumbuh bersama PMII,” ujarnya.
Menurut Ilham, budaya diskusi tidak dapat terbentuk secara tiba-tiba. Kebiasaan tersebut perlu dibangun melalui lingkungan rayon yang mendorong anggota untuk bertanya, menyampaikan pendapat, membaca, berbeda pandangan, dan mencari solusi bersama.
Pemilihan tema “Membangun Pondasi, Membangun Budaya Diskusi” juga berangkat dari kebutuhan mahasiswa baru yang sedang berada dalam masa transisi. Ketua Pelaksana MAPABA, Abidatul Dhulkamala, mengatakan peserta membutuhkan pondasi awal dalam berpikir kritis dan reflektif.
“Mahasiswa baru perlu memiliki pondasi awal dalam berpikir kritis dan reflektif agar tidak menerima informasi secara mentah,” ujar Mala.
Ia mengatakan peserta juga diarahkan untuk menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab dan terstruktur melalui argumentasi. Kebiasaan berdiskusi tersebut diharapkan dapat berlanjut dalam kehidupan organisasi setelah MAPABA selesai.
Pembaiatan menjadi bagian dari rangkaian MAPABA. Ketua Umum PC PMII Pekalongan, Ahmad Nur Khozin, mengatakan pembaiatan merupakan komitmen moral bagi anggota baru dalam memahami makna dan harapan dalam organisasi.
“Nyamanlah dulu untuk ber-PMII. Baru temui kebenaran dan keyakinan yang akan kalian jemput,” katanya.
Menurut Khozin, menjadi kader PMII juga merupakan tanggung jawab moral yang membutuhkan kematangan dalam bersikap. Karena itu, anggota baru perlu terlebih dahulu memahami PMII sebelum masuk lebih jauh dalam ruang-ruang ideologis organisasi.
“Hal pertama yang perlu dilakukan oleh anggota baru adalah memahami apa itu PMII. Dari pemahaman tersebut, harapannya mereka bisa masuk dalam ruang-ruang ideologis PMII dan memberikan manfaat serta dampak,” ujarnya.
Pasca-MAPABA, Rayon Tarbiyah menyiapkan sejumlah kegiatan pendampingan bagi anggota baru, seperti mentoring, Sekolah Jurnalistik, MAKRAB, serta diskusi rutin melalui Biro Kajian.
Dengan rangkaian tersebut, proses kaderisasi diharapkan tidak berhenti pada pembaiatan, tetapi berlanjut melalui keterlibatan anggota baru dalam kehidupan dan kegiatan rayon.
TAGS :